Bekasi telah lama dikenal sebagai pusat industri terbesar di Asia Tenggara, namun tantangan penyerapan tenaga kerja lokal yang kompeten masih menjadi isu krusial bagi pemerintah daerah. Menjawab tantangan tersebut, kolaborasi erat antara SMK PGRI & Pemkab Bekasi hadir melalui sebuah inisiatif besar yang dirancang untuk menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan sektor industri. Melalui Sinergi G2G (Government-to-Government/Government-to-School), program ini secara ambisius menargetkan untuk Serap Ribuan Tenaga Kerja asal Bekasi agar dapat menempati posisi strategis di berbagai perusahaan manufaktur multinasional yang beroperasi di kawasan industri Jababeka hingga MM2100 pada tahun 2026.
Langkah strategis yang diambil dalam kerja sama ini berfokus pada sinkronisasi kurikulum yang sangat spesifik terhadap kebutuhan pasar. Selama ini, sering terjadi ketidaksesuaian antara apa yang diajarkan di sekolah dengan apa yang dibutuhkan di pabrik. Dengan adanya dukungan langsung dari Pemkab Bekasi, pihak SMK PGRI mendapatkan akses data mengenai jenis keahlian apa saja yang paling dicari oleh perusahaan setiap tahunnya. Melalui jalur G2G, pemerintah daerah bertindak sebagai fasilitator yang menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan ratusan vendor industri, sehingga para siswa mendapatkan kepastian penempatan kerja bahkan sebelum mereka menerima ijazah kelulusan, asalkan memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan.
Keunggulan dari program ini terletak pada fasilitas pelatihan yang disubsidi penuh oleh pemerintah daerah. Di bawah pengawasan kementerian dan dinas tenaga kerja, laboratorium di SMK PGRI diperbarui dengan mesin-mesin CNC terbaru, simulator robotika, hingga perangkat lunak desain industri yang standar digunakan di Jepang dan Jerman. Pendidikan vokasi yang didukung secara G2G ini memastikan bahwa siswa tidak lagi belajar menggunakan peralatan yang sudah ketinggalan zaman. Hasilnya, para lulusan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi saat menghadapi uji kompetensi yang dilakukan langsung oleh tim penilai dari pihak industri manufaktur itu sendiri.
Selain aspek teknis, sinergi ini juga memberikan perhatian besar pada “karakter industri”. Banyak perusahaan mengeluhkan kurangnya kedisiplinan dan ketahanan mental pekerja muda. Oleh karena itu, kurikulum di Bekasi ini menyertakan pembinaan mental dan fisik yang bekerja sama dengan aparat keamanan setempat guna membentuk disiplin ala militer yang sangat dihargai oleh perusahaan manufaktur. Melalui jalur G2G, program ini juga memberikan Serap Ribuan Tenaga Kerja dini bagi siswa yang sedang melakukan praktik kerja lapangan (PKL). Hal ini memberikan rasa aman bagi orang tua dan siswa, sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah hadir dalam setiap langkah persiapan karir anak bangsa.